Selamat Datang ^^

Blog ini saya khususkan untuk memuat hal-hal teori psikologi, berikut juga saya masukan pengalaman dan pengamatan saya. Juga, lebih ingin lagi untuk meneliti secara ilmiah. Saya tunggu komentar dari kalian yaa.. debat atau diskusi hal terkait juga boleh!

Selasa, 18 Oktober 2016

Pengaruh Status Ego dan Kepribadian pada remaja di Jakarta Barat

HUBUNGAN DIMENSI STATUS EGO DAN KEPRIBADIAN PADA REMAJA DI JAKARTABARAT


Marcella Evalie Claudia
Jurusan Psikologi, Binus University
 Jl. Kemanggisan Ilir III No. 45 Kemanggisan – Palmerah Jakarta Barat 11480
marcellaevalie@yahoo.com

                                                     
ABSTRACK

The purpose of this study was to look at the relationship between ego and personality dimensions status in adolescents in West Jakarta. The method used is quantitative method with the subject of late adolescence as many as 300 people who had an age range 18-21 years and live in Jakarta. There was a significant relationship between the dimensions of ego states with some aspects of personality with a positive direction. There is a significant correlation between the personality aspect Ekstroverted Commitment (r = 0, 187; p <0.05), Down to Earth (r = 0.382; p <0.05), Big Picture Thinking (r = 0.337; p <0 05) People Focused (r = 176; 0> 0.05), Outcome Focused (r = 252, p <0.05), Inspiration Driven (0,287; p <0.05), and Discipline Driven (r =. 0.260; p <0.05) This indicates that the level of Commitment someone associated with the personality aspect. There is a relationship between Exploration with extroverted personality aspects (r = 206, p <0.05), Down to Earth (r = 0.198; p <0.05), Big Picture Thinking (r = 0.228; p <0.05); People Focused (r = 0.295; p <0.05), Inspiration Driven (r = 0.190; p> 0.05), and Discipline Driven (r = 0.205; p <0.05). This indicates that the higher aspects of personality that indicates higher the Commitment and vice versa, but both were in relationships that are less strong (weak and moderate).
Keywords: Crisis of Identity Youth, Personality, Late Adolesence
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara dimensi status ego dengan kepribadian pada remaja di Jakarta Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan subjek remaja akhir sebanyak 300 orang yang memiliki rentang usia 18-21 tahun dan berdomisili di DKI Jakarta. Ada hubungan yang signifikan antara dimensi status ego  dengan beberapa aspek kepribadian dengan arah yang positif. Terdapat hubungan yang signifikan antara Commitment dengan aspek kepribadian Ekstroverted (r=0, 187; p< 0,05), Down to Earth (r=0,382 ; p<0,05), Big Picture Thinking(r=0,337 ; p<0,05) People Focused (r=176 ; 0>0,05), Outcome Focused (r=252 ; p<0,05), Inspiration Driven (0,287 ; p<0,05), dan Discipline Driven (r=.0,260 ; p<0,05) Hal tersebut mengindikasikan bahwa tinggi rendahnya Commitment seseorang berhubungan dengan Aspek Kepribadian tersebut. Terdapat hubungan antara Exploration dengan aspek kepribadian Extroverted (r=206 ; p<0,05), Down to Earth (r=0,198 ; p<0,05), Big Picture Thinking (r=0,228 ; p<0,05), People Focused (r=0,295 ;p<0,05), Inspiration Driven (r=0,190 ; p> 0,05), dan Discipline Driven (r=0,205; p<0,05). Hal tersebut mengindikasikan bahwa tingginya aspek kepribadian tersebut menunjukan tinggi pula Commitment begitu sebaliknya, tetapi keduanya dalam hubungan yang kurang kuat (lemah dan sedang).
Kata kunci: Pencarian Identitas Remaja, Kepribadian, Remaja Akhir

PENDAHULUAN
Pengamatan Peneliti mengenai remaja di Jakarta menjadi sorotan masyarakat untuk dibenahi segala macam kasusnya. Adapun tokoh psikologi yang bernama Erikson juga berpendapat bahwa remaja adalah tahap pencarian identitas. Menurut Erikson, manusia selalu mengalami krisis ego pada setiap tahapan hidupnya. Krisis ego terjadi  sebagai cara untuk menemukan siapa dirinya dan apa tugasnya di dalam tahapan perkembangan tertentu, krisis ego pada usia remaja yaitu tentang mencari tahu siapa dirinya (Friedman & Shustack, 2006). Meskipun Kota Jakarta telah menyediakan begitu banyak fasilitas bagi remaja (seperti gedung olah raga, rumah belajar, kursus, dan lain-lain) untuk menggali siapa dirinya, tetapi peneliti melihat bahwa hal tersebut tidak membuat para remaja tahu secara pasti sejauh mana mereka akan menetapkan hal-hal untuk di masa depannya. Krisis ego pada masa remaja (Steinberg, 1992), adalah pembentukan identitas maka menurut Marcia (1993) pembentukan identitas pada masa remaja merupakan masalah yang penting karena segala persiapan dan tugas-tugas perkembangan remaja perlu diselesaikan sesuai dengan pada tahapannya, dan diharapkan remaja akhir sudah tahu siapa dirinya dan mengerti untuk menentukan setiap keputusan-keputusan mereka yang akan berpengaruh terhadap tugas perkembangan berikutnya di masa dewasa awal. Marcia (1993) mengatakan bahwa pencarian identitas mereka melalui proses dari pengamatan mereka tentang dunia luar terhadap dirinya, apakah diri mereka diterima atau ditolak. Selama remaja, kekuatan identitas terhadap krisis sebagai pemuda belajar untuk memisahkan konflik psikososial terhadap identitas dan kebingungan identitas. Namun pada faktanya, menurut Feist dan Feist (2006), status ego tidak berakhir selama remaja, tetapi krisis antara identitas (identity) dan kebingungan identitas  (identity confusion) menjadi dasar yang kuat bagi individu pada tahapan remaja untuk mengetahui siapa kira-kira diri mereka pada tahapan dewasa awal. Tugas dalam perkembangan remaja menurut Feist dan Feist (2006), perlu digali dan dipahami oleh individu guna untuk memahami siapa dirinya dan siapa mereka dalam menghadapi dunia luar. Hal tersebut yang menjadi acuan bagi peneliti untuk mempertimbangkan bahwa krisis pencarian identitas remaja tersebut perlu diselesaikan untuk mengarahkan kehidupan remaja menjadi lebih jelas dan terarah.   Menurut Erikson (dalam Feist & Feist, 2006), tahapan perkembangan remaja berada di antara identitas atau kebingungan identitas (identity versus identitiy confusion).  Ego identitas yang ditemukan Erikson adalah tahapan remaja sebagai tahapan klimaks sebagai pemuda yang mencari siapa diri mereka, dan siapa yang tidak sesuai diri mereka. Hal-hal yang dibahas dalam perkembangan ini yaitu seksual, idiologi, dan kedudukan perkejaan.
Rumusan masalah dari penelitian kali ini adalah “Apakah ada hubungan antara dimensi status ego dan aspek kepribadian pada remaja akhir di Jakarta?”
Tujuan penelitian ini adalah bertujuan untuk mengetahui adakah terdapat hubungan positif  antara dimensi status ego dan Kepribadian pada remaja di Jakarta Barat.

Marcia (1993) menyatakan bahwa pembentukan identitas diri dapat digambarkan melalui status identitas berdasarkan ada tidaknya exploration (krisis) dan commitment. Exploration yang juga dikenal dengan istilah krisis adalah suatu periode dimana adanya keinginan untuk berusaha mencari tahu, menyelidiki berbagai pilihan yang ada dan aktif bertanya secara serius, untuk mencapai sebuah keputusan tentang tujuan-tujuan yang akan dicapai, nilai-nilai, dan keyakinan-keyakinan.
Penelitian ini menggunakan alat  ukur kepribadian yang terbaru bernama Lumina Youth. Pertimbangan ini muncul dikarenakan Lumina Youth adalah alat ukur yang cukup unik dan  inovatif dalam  mengukur kepribadian. Tentunya, Lumina menggambarkan  kepribadian  individu secara menyeluruh dengan  menggunakan dasar teori dari Carl Gustav Jung untuk memahami bagaimana individu dalam  berbagai situasi. Lumina (Desson, 2014) juga membagi ‘persona’ dalam tiga kondisi yaitu : underlying (sikap dan sifat individu tanpa tuntutan sosial), everyday (sikap dan sifat individu dalam keseharian), dan overextended (sikap dan sifat individu ketika menghadapi tekanan).
Untuk Penelitian ini, akan berfokus kepada remaja akhir berusia 18-21, karena telah disesuaikan dengan budaya setempat dengan perkembangan psikologis masyarakat yang agak berbeda dengan budaya adaptasi dari barat.
METODE PENELITIAN
Data penelitian akan diperoleh dari partisipan dengan kategori remaja akhir (late adolesence) berkisar antara usia 18 sampai dengan 21 tahun (Hurlock, 2007). Ketentuan partisipan tersebut diperoleh dari pertimbangan bahwa remaja akhir diharapkan sudah lebih matang dan berpengalaman dalam hal exploration maupun commitment mereka untuk menentukan masa dewasa awal mereka. Pada penelitian ini, karakteristik yang harus dimiliki partisipan penelitian antara lain sebagai berikut:Usia 18-21 tahun dan berdomisili di Jakarta Barat. Untuk menjawab pertanyaan penelitian ini, data yang diperoleh dari kuesioner yang disebarkan akan diolah menggunakan spearman product moment. Pengolahan data dilakukan dengan menghitung korelasi Status Ego dengan Kepribadian. Perhitungan menggunakan rumus spearman product moment dengan menggunakan bantuan software Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 20.
HASIL DAN BAHASAN
Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan uji statistik nonparametrik, yakni korelasi Rank Spearman untuk melihat hubungan antara dimensi status ego dan kepribadian pada remaja di Jakarta Barat. Korelasi spearman merupakan uji korelasi yang tidak menyarankan data terdistribusi secara normal. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisa dengan menggunakan SPSS versi 20. Berikut table hasil uji korelasi :
Tabel  Korelasi dimensi commitment dengan aspek kepribadian




R
Sign.
Commitment -  Extroverted
0,187
0,001
Commitment – Introverted
0,46
0,426
Commitment - Down to Earth
0,382
0,000
Commitment - Big Picture Thinking
0,337
0,000
Commitment - People Focused
0,176
0,002
Commitment - Outcome Focused
0,252
0,000
Commitment - Inspiration Driven
0,287
0,000
Commitment - Discipline Driven
0, 260
0,000

Sumber : Pengolahan data IBM SPSS (Version 20)
Ada korelasi yang signifikan antara Commitment dengan Extroverted  (r=0,187; p<0,05). Maka dari itu H01 ditolak, yang artinya hubungan antara commitment dengan ekstrovert berkorelasi lemah dengan arah yang positif. Hal ini mengindikasikan bahwa ada hubungan yang searah dimana semakin tinggi commitment maka kecenderungan mempunyai aspek kepribadian Extroverted juga tinggi. Sebaliknya semakin rendah kecenderungan dalam berkomitmen, maka semakin rendah juga individu tersebut memiliki aspek kepribadian extroverted. 
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa commitment tidak berkorelasi secara signifikan dengan aspek kepribadian Introverted (r=0,46; p > 0,05) Maka dari itu H02 diterima, yang artinya tidak ada hubungan antara commitment dan introverted.
 Ada korelasi yang signifikan antara Commitment dengan Down to Earth (r=382; p<0,05). Maka dari itu H03 ditolak, yang artinya hubungan antara commitment dengan Down to Earth berada pada tingkat korelasi sedang, dengan arah yang positif. Hal ini mengindikasikan bahwa ada hubungan yang searah dimana semakin tinggi commitment maka kecenderungan mempunyai aspek kepribadian Down to Earth juga tinggi. Sebaliknya, semakin rendah kecenderungannya dalam berkomitmen, maka semakin rendah juga individu tersebut memiliki aspek kepribadian Down to Earth.
Ada korelasi yang signifikan antara commitment dengan Big Picture Thinking (r=0,337 ; p<0,05). Maka dari itu H04 ditolak, yang artinya hubungan antara commitment dengan Big Picture Thinking berkorelasi pada tingkat sedang, dengan arah yang positif. Hal ini mengindikasikan bahwa ada hubungan yang searah dimana semakin tinggi commitment maka kecenderungannya mempunyai aspek kepribadian Big Picture Thinking juga tinggi. Sebaliknya, semakin rendah kecenderungan dalam berkomitmen, maka semakin rendah juga individu tersebut memiliki aspek kepribadian Big Picture Thinking.
Ada korelasi yang signifikan antara Commitment dengan People Focused (r=0,176 ; p<0,05). Maka dari itu H05 ditolak, yang artinya hubungan antara Commitment dengan People Focused berkorelasi sangat lemah, dengan arah yang positif. Hal ini mengindikasikan bahwa ada hubungan yang searah dimanan semakin tinggi Commitment maka kecenderungan mempunyai aspek kepribadian People Focused juga tinggi. Sebaliknya, semakin rendah kecenderungan dalam berkomitmen, maka semakin rendah juga individu tersebut memiliki aspek kepribadian People Focused.
Ada korelasi yang signifikan antara Commitment dengan Outcome Focused (r=0,252 ; p <0,05). Maka dari itu H06 ditolak, yang artinya hubungan antara Commitment dengan Outcome Focused berkorelasi lemah dengan arah yang positif. Hal ini mengindikasikan bahwa ada hubungan yang searah dimana semakin tinggi commitment maka kecenderungan mempunyai aspek kepribadian Outcome Focused juga tinggi. Sebaliknya semakin rendah kecenderungan dalam berkomitmen, maka semakin rendah juga individu tersebut memiliki aspek kepribadian Outcome Focused.
Ada korelasi yang signifikan antara Commitment dengan Inspiration Driven (r=0,287; p<0,05). Maka dari itu H07 ditolak, yang artinya hubungan antara Commitment dengan Inspiration Driven berkorelasi lemah dengan arah yang positif. Hal ini mengindikasikan bahwa ada hubungan yang searah dimana semakin tinggi Commitment maka kecenderungan mempunyai aspek kepribadian Inspiration Driven juga tinggi. Sebaliknya, semakin rendah kecenderungan dalam berkomitmen, maka semakin rendah juga individu tersebut memiliki aspek kepribadian Inspiration Driven.
Ada korelasi yang signifikan antara Commitment dengan Discipline Driven (r= 0,260, p<0,05). Maka dari itu H08 ditolak, yang artinya hubungan antara Commitment dengan Discipline Driven berkorelasi lemah dengan arah yang positif. Hal ini mengindikasikan bahwa ada hubungan yang searah dimana semakin tinggi Commitment maka kecenderungan mempunyai aspek kepribadian Discipline Driven juga tinggi. Sebaliknya semakin rendah kecenderungan dalam berkomitmen, maka semakin rendah juga individu tersebut memiliki aspek kepribadian Discipline Driven.
Tabel 4.6. Korelasi dimensi Exploration dengan aspek kepribadian

R
Sign.
Exploration -  Extroverted
0,206
0,000
Exploration – Introverted
0,75
0,198
Exploration - Down to Earth
0,198
0,001
Exploration - Big Picture Thinking
0,228
0,000
Exploration - People Focused
0,295
0,000
Exploration - Outcome Focused
-0,010
0,864
Exploration - Inspiration Driven
0,190
0,001
Exploration - Discipline Driven
0, 205
0,000


Ada korelasi yang signifikan antara Exploration dengan Extroverted  (r=0,206; p<0,05). Maka dari itu H09 ditolak, yang artinya hubungan antara Exploration dengan ekstroverted berkorelasi lemah dengan arah yang positif. Hal ini mengindikasikan bahwa ada hubungan yang searah dimana semakin tinggi Exploration maka kecenderungan mempunyai aspek kepribadian Extroverted juga tinggi. Sebaliknya semakin rendah kecenderungan dalam bereksplorasi, maka semakin rendah juga individu tersebut memiliki aspek kepribadian extroverted
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa Exploration tidak berkorelasi secara signifikan dengan aspek kepribadian Introverted (r=0,5; p > 0,05) Maka dari itu H010 diterima, yang artinya tidak ada hubungan antara commitment dan Introverted.
Ada korelasi yang signifikan antara Exploration dengan Down to Earth  (r=0,198; p<0,05). Maka dari itu H011 ditolak, yang artinya hubungan antara Exploration dengan Down to Earth berkorelasi lemah dengan arah yang positif. Hal ini mengindikasikan bahwa ada hubungan yang searah dimana semakin tinggi Exploration maka kecenderungan mempunyai aspek kepribadian Down to Earth juga tinggi. Sebaliknya semakin rendah kecenderungan dalam bereksplorasi, maka semakin rendah juga individu tersebut memiliki aspek kepribadian Down to Earth.
Ada korelasi yang signifikan antara Exploration dengan Big Picture Thinking  (r=0,228; p<0,05). Maka dari itu H012 ditolak, yang artinya hubungan antara Exploration dengan ekstroverted berkorelasi lemah dengan arah yang positif. Hal ini mengindikasikan bahwa ada hubungan yang searah dimana semakin tinggi Exploration maka kecenderungan mempunyai aspek kepribadian Big Picture Thinking juga tinggi. Sebaliknya semakin rendah kecenderungan dalam bereksplorasi, maka semakin rendah juga individu tersebut memiliki aspek kepribadian Big Picture Thinking
  Ada korelasi yang signifikan antara Exploration dengan People focused  (r=0,295; p<0,05). Maka dari itu H013 ditolak, yang artinya hubungan antara Exploration dengan People Focused berkorelasi lemah dengan arah yang positif. Hal ini mengindikasikan bahwa ada hubungan yang searah dimana semakin tinggi Exploration maka kecenderungan mempunyai aspek kepribadian People Focused juga tinggi. Sebaliknya semakin rendah kecenderungan dalam bereksplorasi, maka semakin rendah juga individu tersebut memiliki aspek kepribadian People Focused
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa Exploration tidak berkorelasi secara signifikan dengan aspek kepribadian Outcome Focused (r=0,206; p > 0,05) Maka dari itu H02 diterima, yang artinya tidak ada hubungan antara exploration dan Outcome Focused.
Ada korelasi yang signifikan antara Exploration dengan Inspiration Driven  (r=0,190; p<0,05). Maka dari itu H015 ditolak, yang artinya hubungan antara Exploration dengan Inspiratin Driven berkorelasi lemah dengan arah yang positif. Hal ini mengindikasikan bahwa ada hubungan yang searah dimana semakin tinggi Exploration maka kecenderungan mempunyai aspek kepribadian Inspiration Driven juga tinggi. Sebaliknya semakin rendah kecenderungan dalam bereksplorasi, maka semakin rendah juga individu tersebut memiliki aspek kepribadian Inspiration Driven
Ada korelasi yang signifikan antara Exploration dengan Discipline Driven  (r=0,205; p<0,05). Maka dari itu H016 ditolak, yang artinya hubungan antara Exploration dengan Discipline Driven berkorelasi lemah dengan arah yang positif. Hal ini mengindikasikan bahwa ada hubungan yang searah dimana semakin tinggi Exploration maka kecenderungan mempunyai aspek kepribadian Extroverted juga tinggi. Sebaliknya semakin rendah kecenderungan dalam bereksplorasi, maka semakin rendah juga individu tersebut memiliki aspek kepribadian Discipline Driven.
SIMPULAN DAN SARAN
Dari pengolahan data pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara Commitment dengan aspek kepribadian Extroverted, Down to Earth, Big Picture Thinking, People Focused, Outcome Focused, Inspiration Driven dan Discipline Driven. Sedangkan tidak terdapat hubungan antara Commitment dengan aspek kepribadian Introverted.
Disisi lain, dapat disimpulkan juga bahwa ada hubungan antara Exploration dengan aspek kepribadian Extroverted, Introverted, Down to Earth, Big Picture Thinking, People Focused, Inspiration Driven, Discipline Driven. Sedangkan tidak terdapat hubungan antara Exploration dengan aspek kepribadian Introverted dan Outcome Focused.
Peneliti menghimbau untuk penelitian yang akan dilakukan sebelumnya sangat-sangat mempertimbangkan alat ukur yang dipakai, terlebih lagi untuk mengukur Commitment dan Exploration yang sudah diadaptasi , sesuai dengan kebutuhan demografi Indonesia. Untuk permasalahan agama dan politik yang perlu dikaji ulang untuk disamakan dengan perilaku gambaran umum masyarakat Indonesia. Penelitian ini membutuhkan waktu yang panjang untuk benar-benar mendapatkan hasil yang terbaik, karena pengisian kuesioner dengan item yang banyak, tidak semua partisipan bersiap hati dengan terbuka mengisi kuesioner tersebut.
Peneliti berharap penelitian ini akan bermanfaat bagi para ilmuan psikolog untuk membangun referensi mengenai remaja dan  perkembangan, guna dapat membangun penelitian-penilitian yang lebih bermutu. Dapat juga bagi orangtua yang bisa lebih lagi memami anaknya beserta masalah kepribadian anaknya, dan para guru atau layanan bimbingan konseling dalam menanggapi permasalahan identitas remaja akhir yang mungkin berkaitan dengan perencanaan status kedudukan mereka.
REFERENSI
Andangsari, E.W., Angie, G., Rumeser, J., Wisudha, A. (2016). The Correlation between Peronality and Individual Entrepreneurial Orientation: A Recommendation for Entrepreneurial Education. Proceeding of International Conference on Entrepreneurship. Pelita Harapan University, Tanggerang, hal. 11-12.
Balistreri, E., Busch-rossnagel, N.A., Geisinger, K.F. (1995) Ego Identity Processm Questionnaire. Journal of adolescence, 18, 179-192.
Clancy, S.M., & Dollinger, S.J. (1993). Identitiy, self, and personality: I. Identity status and the Five-Factor Model of Personality. Journal of Research on Adolesence, 3 (3), 227-245.
Chandra, A.D., Rahmawati, I., Hardiani, R.S.(2009). Hubungan Tipe Kepribadian dengan Perilaku Seksual Berisiko Remaja di SMKN “X” Jember. Skripsi : Universitas Jember.
Desyandri. (21 Januari 2014). Teori perkembangan psikosisial Erikson. Diambil dari                                                                              https://desyandri.wordpress.com/2014/01/21/teori-perkembangan-psikososial erik                      erikson/
Derlega, V.S., & Jones, W.B. (2005). Personality contemporary theory and research.  Belmont: Wadworth Thompson.
Djaali & Muljoni, P. (2007). Pengukuran dalam bidang pendidikan. Jakarta: Grasindo.
Desson, S. (2013). 02 Lumina spark-the theory-the big5 and jung. Tidak diterbitkan: Lumina Learning.com
Desson, S. (2013). 03 Lumina spark-the theory-definition. Tidak diterbitkan: Lumina Learning.com
Desson, S. (2013). 05 Lumina Spark-The Theory-Validity. Tidak diterbitkan: Lumina Learning.com
Derlega, V.S., & Barbara W, J. (2005). Personality contemporary theory And Research. Belmont: Wadworth Thompson.
Erikson, E.H. (1968). Identity: Youth and Crisis. New York: Norton & Company.
Farida, A. (2013). Karakter Remaja. Bandung: Nuansa Cendikia.
Feist, J., & Feist,G.J. (2006). Theories of personality sixth edition. Singapore: McGraw Hill.
Gravetter, F.J. &Wallnau, L.B. (2007). Statistic for Behavior Science (7th edition). Canda: Thomson Learning, Inc.
Gravetter, F.J., Forzano, L.B. (2012) Research Methods for the Behavioral Sciences (4th Edition). Canada: Cengage Learning.
Hariyanto. (11 Desember 2009). Tugas perkembangan remaja. Diambil dari                                                                              http://belajarpsikologi.com/tugas-perkembangan-remaja/
Harlock, B.E. (2006). Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Howard, F.S., & Schustack, M.W. (2008). Kepribadian teori klasik dan riset modern.  Jakarta: Erlangga
Hall, C.V., Garner, L. (1985). Introduction to theories of personality. New York: John               Wiley    & Sons.
Howard, F.S., & Schustack, M.W. (2008). Kepribadian teori klasik dan riset modern.  Jakarta: Erlangga.
Kroger, K. (2004). Identity in Adolesence : The Balance Between Self and Other. NewYork: Routledge.
Marcia, J.E., Waterman, A.S., Matteson, D.R., Archer, S.L., Orlofsky, J.L. (1993). Ego Identity : A Handbook for Psychosocial Research. New York : Govement Employees
Nasution. (2011). Teknologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Nazir, M. (2005). Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Pervin, L. (1984). Personality: Theory And Research, New York: John Wiley & Sons.
Pervin, L. (1984). Personality: Theory And Research, New York: John Wiley & Sons.
Santrock, J.W.(2007). Adolescence.  Jakarta : Erlangga.
Sari, I. (2014). Hubungan antara persepsi pola asuh orang tua dengan perilaku konsumtif         remaja                                                                              akhir di Jakarta. Diambil dari Online Library Binus University.
Samsunumyati, M. (2006). Psikologi Perkembangan. Bandung: Rosda
Salkind, N. J. (2004). An Introduction to Theories of Human Development. London: Sage                                                                              Publications.
Santrock, J.W. (2012). Life-span Development. Dallas: Mc Graw-Hill.
Sawitri, D.R.(2009). Pengaruh Status Identitas dan Efikasi Diri Keputusan Karir terhadap Keraguan Mengambil Keputusan Karir pada Mahasiswa Tahun Pertama di Universitas Diponogoro. Skripsi : Universitas Diponogoro.
Steinberg. (2002). Adolescence. 6thEd. USA: McGraw Hill Higher Education.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Suryabrata, S. (1983). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Fajar Interpratama Offset.
Schultz, D.P., & Shultz, S.E. (2005) .Theories of Personality. USA: Wadsworth.
Winkel. (2005). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Gramedia
Yusuf, S.L.N., & Juntika, N. (2007). Teori Kepribadian. Bandung: Rosda
RIWAYAT PENULIS

Marcella Evalie Claudia, Bandung, 7 November 1992. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Universitas Bina Nusantara dalam bidang psikologi pada tahun 2016.